About Me...

Foto saya

I'm Rukhster... :)

"Succes is not a good teacher. Failure makes you humble"_SRK

"
Succes and failure are both part of life. Both are not permanent"_Shah Rukh Khan.

Jumat, 15 November 2013

“Kembalikan Senyumku Tuhan…” Part 8



“Kembalikan Senyumku Tuhan…”
Part 8

Karya : Elsha Ms
Dibuat : Desember 2012

"nah... Sha sekarang saatnya loe potong kue,, mau loe kasih kue pertamnya untuk siapa nie??", ledek imel.

Ku mulai memotong kue ultahq. Dan aq berikan potongan pertamaq untuk bundaq, seperti tahun lalu.
Ku peluk mereka, aq merasa umurq semakin bertambah dan aq semakin takut akan berpisah dari mereka terutama berpisah dari Kakakq.
Ku lihat dia dan aq menangis, diciumnya kening ku lalu di peluknya tubuh mungilku  dalam dekapannya.
"tanpa kakak sadar ternyata peri kecil Kakak, yang dulu begitu manis, kini sudah menjadi peri yang begitu cantik... Happy bith day adikku sayang.. Kakak sayank padamu." kata Kak Alfa.
Kami berlarut dalam kebahagian malam itu, dan ku sadari kalau dari tadi Tak ada Davien di sekeliling kami.. Kemana dia???", pikirq.
Ku dikejutkan dengan tangan lembut seseorang yang menutup mataku dari belakang, ku rasakan perlahan tangan itu, seperti ku tak asing dengan tangan ini, tapi siapa??", pikirq.

Ku terdiam sejenak,....
"Rio...???", tebakku, karena memang malam itu aq sangat mengharap kehadirannya.
orang itu melepaskan tangannya dari mataku, dan ku lihat didepan ku ada..
"hhhh.. Ternyata kamu vien", jawabq sedikit kecewa.
Ku lihat matanya, aneh tapi kenapa mata itu berkaca, raut mukanya seperti orang yang teramat kecewa
dia hanya diam sambil terus memandangi ku, aq semakin kebingungan.
dia membalikkan badannya beranjak pergi, tapi aq mencegahnya, ku tarik tangannya.
"kamu mau kemana vien, kamu nggak mau ngucapin happy birth day untuk ku buat ke2 kalinya nie,, biar lebih afdhol gitu hehe??? Aku dari tadi juga nyariin kamu tauk", desakq.

Dia kembali menolehkan pandangannya kearah ku, kali ini benar ku lihat jelas mata itu semakin berkaca sepertinya dia tak lagi mampu menahan airmatanya yang seakan dari tadi ingin ditumpahkannya, dan akhirnya dia meneteskan air matanya. Ku dekati dia, ku usap airmata itu....
"kamu kenapa vien?? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?? Kenapa kamu nangis, dan ini juga... Kapan kamu ganti jas?? Perasaan tadi kamu pakai jas putih kenapa sekarang jadi hitam??", tanyaku.
Dia hanya diam, dan kali ini dia mengulurkan tangannya
"kamu mau dansa sama aq... Sha??", tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaan ku tadi.
Aku semakin bingung dengan sikapnya.. Tapi aku hilangkan sejenak kebingungan ku itu, aq sambut tangannya dengan lembut.
"of course.. Kenapa enggak..tapi hapus dulu tu airmata aq nggak mau dansa ama orang yang cengeng, entar apa kata dunia coba", jawabq meledeknya.

Dan kami pun larut dalam dansa, gerakkan demi gerakkan, langkah demi langkah..
Ku rasakan semakin dekat dengannya, aku semakin merasa kalau aku tak asing dengan tatapan itu. Sampai pada saat dia melepaskan gengaman tanganku dan ku lihat dia tak ada lagi di dekatku.. dan aq sadar seblum itu dia mengecup keningku.
Dan entah kenapa airmataku menetes saat itu.
Tidak... Ku melihatnya lagi dari kejauhan. kali ini dia berdiri berhadapan tepat dengan seseorag berjas putih itu, aq semakin penasaran.. Perlahan kakiku menuntun ku mendekati mereka.
Semakin mendekat aq semakin bingung, orang berjas putih itu.. Davien?? Lalu siapa orang yang berjas hitam ini, yang tadi mengajak ku dansa???!!.

Ku tatap Davien berharap dia mau memberi ku penjelasan, tapi sama yang  ku lihat dimatanya hanya gumpalan airmata,
Ku pegang pundak orang itu, ku balikkan badannya... Dan aku terkejut, aku tak menyangka dengan apa yang ku lihat.
"vien... Vien jawab, dia ini siapa??", tanyaq pada Davien..
"lihat dengan jelas sha, jika memang benar kau pernah sangat mencintainya dulu seharussnya kau bisa menebak dia siapa, dan tak akan mengira kalau dia itu aq..", jawab Davien.
Aku menangis,,, dan semakin bingung.
"Nggak...!! Enggak.. Ni nggak mungkin.. apa yang ku lihat ini nggak bener kan vien?? Ini semua cuma mimpi kan vien...jawab aq vien, apa maksudnya semua ini???", tanyaku ke Davien. Aku masih belum percaya kalau orang yang di depan ku ini Dennis, orang yang dulu sangat ku cintai.
Orang itu menatap ku, dia mendekati ku....masih dengan mata berkaca-kaca.
tapi  aku terus menghindarinya, ku berjalan mundur, seakan masih tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang.
Dia terus mendekati ku....
"kamu nggak bisa kenalin aku?? Kamu udah lupa dengan caraku bicara?? Kamu udah lupa dengan mata ini, yang dulu selalu kau bilang bisa menenangkan hatimu setiap kau menatapnya?? Kamu masih belum percaya kalau orang yang kau lihat ini adalah orang yang 5 th lalu kau pegang tangannya dan memelukmu 15 menit sebelum dia menghidupkan motornya, dan akhirnya dia terjatuh???", katanya bertubi meyakinkanku.

Aq mencoba memberanikan diri mendekatinya, kembali ku tatap mata itu.. Ya Allah itu benar mata Dennis,.... Aku mencoba memeggang tangannya menepukkan dipipi ku, berharap ini bukan mimpi.
"sudahlah cukup... Kamu nggak lagi mimpi, ini beneran aku, ini aq Dennis sha..", lanjut dia lagi.
"dia Dennis sha... Dia orang yang selama ini kau yakinni masih hidup, dan dia sekarang ada didepanmu sha..", kata Davien dan Rasya ikut meyakinkan ku.
Aku  masih tak percaya, dengan airmata yang tak mampu lagi ku redam, aku berlari meninggalkan mereka.


Beberapa hari kemudian..

"non.. Ada telp dari ayah non", kata mbak sulis.
"bilang aku la gi nggak enak badan ya mbak", jawabku malas.
"tapi non... Bapak bilang,, Bapak mau..", jawab Mbak sulis lagi.
"udah dech mbak, bilang aja kayak gitu..!!!", bentakku memotong perkataan Mb Sulis.

Mbak sulis pun meninggalkan kamar ku.
Selang beberapa menit, ku dengar ada mobil masuk halaman rumah ku, karena penasaran ku coba mencari tau dari jendela kamar ku.
Ku lihat mobil Davien.. Hhh.. Mau apa dia", pikir ku masih kesal.
"non.. Ada mas Davien..", kata mb sulis lagi.
Belum sempat aku menjawab, ku lihat Davien sudah berdiri tepat didepan pintu kamarku.
"maaf sha kalau aq lancang, tapi aq tau kamu pasti nggak mau ketemu aku, makannya aku maksain masuk.. Sha ada yang mau aku omongin", kata Davien memohon.
Aku hanya diam sedikitpun tak ku lihat dia, karena jujur aku masih kesal padanya sejak malam itu,,entah karena apa tapi hati ku seakan terus memaksa ku untuk memungkiri semuanya.

Bisa-bisanya dia buat sandiwara nggak penting itu,, sok-sok-an datengin orang yang mirip Dennis kayak gitu", pikirq kesal.
"sha.. Aq tau mungkin kamu nggak percaya, tapi aku nggak pernah bohong sama kamu sha, dia memang Dennis, dan selama 5 th kemarin dia mengalami kelumpuhan dan dia juga kehilangan ingatannya, dan dia butuh waktu 1 tahun untuk pemulihan", sahut Davien mencoba menjelaskan.
Tapi aku masih tetap tak percaya..
"cukup vien!!!.. Cukup, aku nggak mau masuk lebih dalam lagi ke permainanmu.. Aq bukan orang bodoh yang bisa dengan mudah kamu bodohi yang bisa dengan mudah percaya gitu aja..", jawabku memungkiri kata hati ku,
melihat sikap dan jawaban ku Davien pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia permisi pulang.
"oiya dan 1 lagi sha... sore ini Dennis akan ikut aku ke Australia, dan mungkin kami nggak akan pernah ganggu hidup kamu lagi jika memang menurutmu kami berbohong, Dennis pun juga cukup tau diri dengan statusmu sekarang, dia datang hanya untuk melihatmu bahagia, karen dia sadar dia memang telah terlalu lama meninggalkan dan membiarkanmu menunggu... Selamat tinggal", sahutnya sambil berlalu.

Entah kenapa airmata ku langsung mengucur deras saat ku lihat Davien meninggalkan ku dengan kata-kata seperti itu... Aku mencoba menenangkan hati ku, berharap bisa membunuh rasa sakit yang entah karena apa.. Aku masih belum bisa terima kenyataan ini.

3 jam berlalu setelah kepergian Davien..

kriiiiinggg....kring...kringggg(suara telp rumah ku)
"hallo,, ini siapa??", sapaq.
"hallo... ini aku Dennis sha, aku minta maaf kalau kehadiran ku tadi malam di waktu yang kurang tepat, aku tau mungkin memang tak sepantasnya aku muncul lagi, setelah sekian lama ku membuatmu menunggu.. Aku cuma pengen pamit dan ucapin kata selamat tinggal untuk terakhir kalinya padamu.. Aku minta maaf kalau kepergian ku dulu membuatmu sakit, sampai sekarang kau tak memberi ku kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan semuanya... Aku minta maaf...dan.. Huuhhft.. Jaga dirimu baik-baik... don't cry karena aku nggak mau melihat peri kecil ku menangis", sahut Dennis dan dia menutup telpnya.

Aq menangis terisak.. seperti ada yang hilang lagi dari jiwaku.. Rasanya sakit sekali.
Ku lihat foto Dennis dari laci.. Ku pandangi senyuman itu yang serasa membuat ku semakin sakit, tiba-tiba aku teringat kata-kata Davien tadi, dia bilang Dennis berangkat pada penerbangan pertama sore ini, aku nggak mau membuang-buang waktu ku lagi, aku bergegas memacu mobil ku menuju rumah Dennis karena ku fikir mungkin dia belum berangkat ke airport.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar