About Me...

Foto saya

I'm Rukhster... :)

"Succes is not a good teacher. Failure makes you humble"_SRK

"
Succes and failure are both part of life. Both are not permanent"_Shah Rukh Khan.

Selasa, 12 November 2013

Setapak Jalan Diujung Pelik berliku.. Part 1



Setapak Jalan Diujung
Pelik berliku..

Karya : Manda Ms
Dibuat, 3 Okt 2012



Hmmm…Cuma kesal yang ada di dalam benak Rhein siank ini…
Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan untuknya.
Uuuhhhh… “aku paling benci menunggu!!!,” teriak Rhein…
“sabar to Rhein,,, paling bentar lagi juga Bang Kelvin dateng…jangan manyun gitu tow..” sahut Dina,,,,
“…..isssssssss… gimana gua gak manyun  lo gini caranya,,,?? dia tu kebiasaan lo maen gak pakai aturan.. udah tau mobil hari ini mau gua pakai buat latihan… mana besok ada pertandingan pula,,” uhhh… tau gini mending tadi gue terima ajakan kak shandy…!!!” keluh Rhein kesal.
Menit berganti menit,,, jam berganti jam,,, tapi bang Kelvin belum terlihat juga batang hidungnya, semakin kesal hati Rhein saat dia liat jam tangannya sudah menunjukan waktu  pukul 13.30 WIB…
Tapi,,, berapa menit kemudian,,, terlihat mobil sedan merah marun muncul dengan kencang dari tikungan yang dari tadi di pelototin oleh Rhein…
“Nahhh… itu dia orangnya…(cletukkk Rhein, saat dia liat mobil itu muncul). Ya.. itulah bang Kelvin.
“Bang!!!..... abang tu dari mana sich… jam berapa ini????!!! udah dari tadi aku sama dina disini nungguin abang ampe kering taux!!!!”,teriak Rhein pada kakaknya…
tau sendiri gimana Rhein kalo marah…. Hahahahaha.
“iya maaf Rhein,” tadi abang ke toko bola bentar nyari bola basket…” sahut kakaknya…
“……Uhhhh… ya udach mana kunci mobilnya… aku mau
langsung cabutt…” Timpal Rhein…
(masih dengan muka manyunnya..)
Bergegaslah rhein masuk kemobilnya… di pacunya dengan kecepatan tinggi mobil itu…
“(hhhh…. Kesal dalam benak Dina)..kebiasaan kalau lagi emosi campur buru2, pasti kebut kebutan, udah kek yang punya jalan aja… dasar Rhein!!!”, keluh Dina dalam hati.



Sampailah mereka di lampu merah tepat didepan pos Satlantas….
Rhein berhenti mendadak seperti biasanya,, dengan gaya setirnya yang ugal ugalan tak di pedulikannya suara suara bising peluit komando -
satlantas di jalan itu…                    
Dia sedang asyik dengan BB.nya.. dan handsfree di kepalanya, seperti biasanya.
“ permisi mbak”, terdengar suara polisi yang menyebalkan…dari balik kaca jendela mobil.
Karena saking asyiknya…. Rhein tak menggubris sapaan pak pol itu, ya terpaksa Dina lah yang menanggapi polisi itu…
dug…dug…dug… (suara detak jantung Dina berpacu kencang,,,)“uhhhh…. Ni polisi ganteng bener yachhh J”, dalam benaknya….hihihhiiii..
“ya pak,,, ada apa yach… maf pak temen saya kupingnya rada budek…. Hehehhe”, sahut Dina.
“Ya gak papa mbak, tapi bisa tolong minta temen mbak itu untuk menepikan mobilnya ke sebelah sana sebentar”, tunjuk polisi itu kearah pos polisi.
“ta…tata..pi pak, ada apa yach… kek.nya qt nggak habis melakukan pelanggaran…dech,” sahut Dina…
Diliriknya Rhein yang ternyata dari tadi memang tak sedikitpun menggubris kalau ada polisi yang sedang mencegat jalannya…. Saking kesalnya….soalnya liat kelakuan temannya itu,,, di pukulnya pundak Rhein  dengan kencang,
“0yyyy….. Rhein…. Bukak tu handfree lue!!!,” teriak Dina tepat di kuping Rhein.                 
“liat tue kayaknya kita bakal kena tilang taux,” sahutnya lagi…
“Whaaaattttt!!!!!..... yang bener aja lue… memangnya kita nglakuin  pelanggaran apa pak….????” Sahut Rhein.
“mari ikut saya ketepian sana dulu, nanti saya jelaskan,” sahut polisi itu pula dengan ramah.
Menepilah mereka mengikuti petunjuk polisi tsb.
‘mbak yng nyopir bisa keluar sebentar,” sahut polisi yang dari tadi sepertinya sudah mengawasi gerak mobil Rhein dari dalam pos satlantas  itu….
Uhhhhh….. kenapa lagi ni Rhein, lue sihh ada2 aja… nyetir mesti pakai handfree segala”, bisik Dina kesal…
“diem aja lue… gua nggak ngerasa nglakuin pelanggaran tauk…tadi di lampu merah kita selalu berhenti kan??? Trus apa pula hubungannya sama handsfree gua????, aneh lue,” timpal Rhein.
“bisa tunjukan SIM dan STNK.nya dek…” kata polisi itu..
“tunggu tunggu tunggu… pak, tapi kalo kita boleh tau kita ini salah apa ya pak??? Perasaan dari tadi kita gak melanggar  peraturan apapun”, sahut Rhein kesal.
“ya… baiklah saya akan jelaskan, begini….mungkin mbak berdua tadi tidak sadar atau mungin tidak liat ada tanda jalur searah di depan sana….” Kata pak pol mencoba memberi penjelasan.
“……Hahhhhhhh!!! Dina n Rhein melongo,,,
Sejak kapan jalan ini jadi jalur searah pak???? Seumur-umur saya lewat sini, jalur ni tu jalur alternative pak….. jalur dua arah, tapi kenapa jadiiii…????” mereka berdua bingung.
“begini mbak… pas di tikungan sana tadi ada perbaikan jalan dan di sana pun sudah di buat petunjuk darurat untuk pengemudi tentang hal itu..” kata polisi memberi penjelasan.
“apa mbak berdua tidak melihat plang besar di sana???” timpal polisi itu sedikit emosi melihat simbatan Rhein yang begitu ketus seperti tak mau di salahkan.
“baiklah!!... kita minta maaf pak, mungin memang salah kita yang tak melihat plang di belakang tadi karena kita tak begitu konsen,,” sahut Dina menenangkan keadaan.
“terus qt harus bagaimana selanjutnya pak???”, Tanya Dina.
Untung polisi itu baik hati…. Karena surat-surat Rhein lengkap mereka dilepaskan, hanya sebatas diberi penjelasan dan pengarahan…
Tapi tetap aja dalam hati Rhein dia begitu kesal dengan polisi itu.
“memperlambat jalanku saja!!!!, alamak…!!!!!! Mati gue telattttt!!!!” kata Rhein.
“ni gara2 polisi gila itu!!! sialan sialan sialan……”!!!!!
“udah to Rhein, nggak usah marah marah terus kenapa? ngGak puas apa dari tadi lue marah-marah terus sampai akhirnya kita nyaris kena tilang gara-gara itu???” kata Dina yang mulai kesal sama sikap Rhein.

“Hmmmm…. Terserah apa kata lue dech din, yang pasti gua kesel banget!!” sahut Rhein emosi.
Beberapa menit kemudian sampelah mereka di tempat latihan.
“uhhhh…untung Cuma telat beberapa menit (pikir Rhein),”

“Hayy Rhein, kok baru nyampe???” sapa cowok ganteng yang dari tadi rupanya ngeliatin kedatengan rhein.
Ya… dia lah yang namanya kak Shandy. Kakak kelas Rhein dan dina, sekaligus kakak seperguruan Rhein di Taekwondo Club’s.
“hmmmm…. Habis ketilang kak kita,hahahahaha…” sahut Dina, nyerocos...
(rhein meringis)
“….apa??? hahahaha… rhein pembalap jalannan ini bisa ketilang polisi juga tow….”,goda shandy
“ahh… kak shandy ini,,,,” rengek Rhein sedikit kesal.

Tktktktktkktktkt…..
Jam menunjukkan pukul 5 sore, pertanda latihan hari ini selesai.
“Rheinnnn,,,!!!!” panggil shandy
        “Iya kak, ada apa?? Sahut Rhein
“Kamu masih marah sama kakak????,
“Eikkkkttt???? (Rhein mengernyitkan keningnya)…marah untuk apa???”, jawabnya..
“Yang tadi karena perkataanku tadi tentang tilang…hehehe(Shandy tertawa kecil)
“…hmmmm.. nggak kok santai aja, aku tau kakak Cuma ngajak becanda, tapi maaf yach, garinggg!!! Wakakakakakakkk
(Rhein berlari kearah parkiran)
Ehhhh… Rhein, awas ya kamu!!!! (Shandy mengejar Rhein)

Di parkiran Taekwondo Club’s
Tepat didepan mobil shandy dan Rhein
Shandy : “Rhein…
Rhein : “Iya… kenapa??? Isss… cenyum-cenyum sendiri,,, kakak salah makan obat yach…wkwkwkwk
Shandy : “uhhh…sialan lue..”
Rhein : “biarin… weeekkk!!! :p yuk ,din kita cabut.(Rhein menggandeng Dina masuk ke mobilnya dan memacu mobilnya dengan kencang meninggalkan Shandy sendiri)
“….daaaaaa kak shandy,” terdengar suara gak jelas itu dari kejauhan,,
Sampe disitu lah percakapan mereka hari ini


Bab II
Sebuah Pengakuan

HUaemmmmm…..(Rhein menguap)(@#@#@@#@@@#???)
Dibukanya matanya dengan malas….
“Rheinnnnn!!!!”, terdengar suara mamanya memanggil..
Hmmmm… iya maaa,,,” saut Rhein, bentar lagi… Rhein masih ngantuk, lagian hari ini Rhein gak ada Kelas kok jadi Rhein libur,” sahut Rhein lagi,(Rhein tidur lagi)

“….woyyyy rhein bangun… lue sekolah apa gak,??? Hari ini kelasnya pak maulana loe,” Datang Dyna ngebangunin.
“Ehmmmmm…. Kenapa sih dyn??? Gw males ahhh…Loe aja dech berangkat sana…!!!”,rengekk  Rhein
“Uhh… dasar pemalas,” pikir Dyna.

Di SMA BINA BANGSA
Tepat di depan kelas IPA I, ya… kelas Dyna dan Rhein biasanya belajar.

Dyna duduk sendiri, seperti biasanya bangku sebelahnya itu teramat sering kosong, karena itulah bangku Rhein… anak kesayangan wali kelas yang terkenal otaknya encer, jago taekwondo, kebanggaan sekolah dalam PORSENI-PORSENI tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya…. Hmmmm… ya kalo dipikir2 memang banyak prestasi Rhein,, tapi tetep aja… Rhein ya Rhein,, si Gadis taekwondo sekaligus tukang bolos, hahahaha….
Dyna mengernyitkan keningnya saat dia dengar pembicaraan-pembicaraan teman sekelasnya tentang Rhein, sahabatnya itu)

Dalam benaknya Dyna bergumam,,,,,
”kalau difikir-fIkir, memang benar semua yang mereka omongin tentang Rhein, andai dia tak punya segudang prestasi itu, mungkin dia bisa terus mengulang tiap tahunnya karena kebiasaan buruknya ini,,hmm… tukang bolos…ccccrrrrrtttttkkkk”
“Hmmm…tapi sudahlah, walau gimanapun Cuma dia sahabat terbaikq.. dimataq dia yang terbaex,, dan dia memang berhak dapat penghargaan sekaligus keistimewaan seperti ini,” pikir Dyna.
Tersentak Dyna dari lamunannya, tiba-tiba ada sosok tinggi tegap berdiri di sampingnya
“hyy…Dyn, mana Rhein??? ngGak berangkat lagi ya anak itu”, sapa anak itu
“eehmmm.. kamu to Dim, iya ne, tadi sihh udah aku samperin  kerumahnya kayak biasanya,tapi…huhhhh”, Dyna menghela nafas panjang.
“…hahahahha.. tapi dia masih molor dan bilang,” udahlah Dyn loe aja yang berangkat sana…hahahhaha iay kan Dyn???? Tanya Dimas seraya meledek Dyna.
“…ahhh lue mas, tau aja… ehhh… kantin yuk,,,” ajak Dyna

Di kantin sekolahan,
“ehhh…. Loe Dyna kan sahabatnya Rhein,” sapa cewek berambut panjang yang entah sejak kapan berdiri di dekat meja dimana Dyna sama Dimas duduk.
“…mmmm…iya, kenapa??? Oyyy… kamu sapa??? Anak baru ya, kok keknya Gw gak pernah liat lue di sini,??” sahut Dyna
“….he.emt, kenalin gw Reva, anak pindahan dari jogja, gw anak IPA II,” jawab Reva.
“owww…. Oiya tadi lue Tanya Rhein ada urusan apa yach kalau boleh tau, biar entar bisa gw sampein ke dia..soalnya kebetulan hari  ini dia ggak masuk,” sahut Dyna lagi dengan ramah.
Mereka ngobrol terus sampai terdengar bel tanda waktu istirahat usai tiba, dan ternyata Reva itu teman SMP Rhein waktu di jogja dulu, sekaligus mantan pacar Bang Kelvin, dia pindah pun itu karena dia ingin ketemu Bang Kelvin lagi, usut punya usut ni,,,, ternyata dia masih cinta mati sama Bang Kelvin….hahahahhaha… ada ada aja.
6.
Bel pulang berbunyi….
“ehhh… Dyn, tadi loe bilang rumah loe deket sama rumah Rhein kan???” Tanya Reva.
“….he.emt iya, kenapa??? loe mau bareng gw kesana??” sahut Dyna lagi.
“iya iya, boleh kan???”… jawab Reva
“of course….. J” jawab Dyna.
Bergegaslah mereka ke tempat Rhein….
Sampainya di rumah Rhein,,,, mereka liat pak Mahmud sopir keluarga Rhein yang lagi ngepak barang ke mobil,,,,,
“eh… ada neng Dyna… nyari non Rhein ya neng???” Tanya pak mahmud ke Dyna.
“….iya pak, mana Rheinnya… oh ya ini barang siapa pak?? Kok banyak banget???” sahut Dyna pula,
“ow…. Ini barangnya den Kelvin neng,,,sama punya non Rhein juga, o iy non Rheinnya ada di taman belakang neng, ge liatin den Kelvin yang lagi asyik sama lukisannya” jawab pak Mahmud.
“……hmmmm…memang mereka mau kemana pak???” Reva menyela pembicaraan.
“ow… biasa neng, lo den Kelvin naik gunung kan, non Rhein pasti gak mau ketinggalan…hehehehe” jawab pak mahmud sambil terkekeh.

Masuklah mereka dan meninggalkan pak Mahmud di teras depan,
Entah kenapa terlihat mata Reva berkaca melihat Bang Kelvin dari belakang, seperti ada kerinduan yang teramat dalam.
“Uuhhh…wajarlah mungkin karena mereka yang tlah lama tak bertemu…” pikir Dyna.
“Heyy….Rhein!!!” Dyna mengejutkan Rhein.
“Huuuuuu…. Loe ngagetin aja” jawab Rhein, semakin kaget Rhein melihat ada….. ada teman lamanya berdiri tepat di samping Dyna,,,,
Sedangkan Dyna, Tanpa berkata apa apa, Dy yang memang naksir berat ma Bang Kelvin, langsung saja mendekati Bang Kelvin dengan gaya centilnya…hohohohohooh…

Di lain tempat,, Rhein mendekati Reva yang entah kenapa sejak tadi tiba-tiba mukanya berubah menjadi kelu…
“apakabar Va…???”, Tanya Rhein…sambil di peluknya erat sahabat lamanya itu.
“baik…. Kamu???”, jawab reva, membalas pelukan Rhein.
“kenapa kamu bisa sampai disini Va, kemana aja kamu selama ini???, Bang Kelvin nyariin kamu kemana-kemana…,” timpal Rhein lagi sambil memalingkan pandangnnya kearah abangnya yang sejak tadi asyik ngobrol dengan Dyna yang ternyata belum juga menyadari adanya Reva saat itu.
Pandangan reva menjadi sangat kelu,, mukanya berubah menjadi pucat…. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang…
Matanya hanya tertuju pada sosok yang ada di depan sana… ya,,, pada Bang Kelvin.
Seperti ada yang begitu ingin dia ungkapkan, perlahan bibirnya pun terbuka,,,, dia menjawab pertanyaan rhein dengan terbata-bata dan airmatanya tiba-tiba menetes,,,
Reva : “….aku bingung harus memulainya dari mana Rhein, ceritanya begitu panjang dan begitu menyakitkan untuk ku ungkapkan,,,, di lain sisi aku begitu ingin memeluk kak Kelvin,,,, aku rindu padanya Rhein….sangat sangat merindukannya,,,, tapi…
…hhhh”, (reva menghentikan pembicaraannya…)
Rhein : “ta..pi apa va????”, Tanya Rhein semakin ingin tahu.
Reva:    “…. Saat itu, tepat dimana setelah pesta ultahku, dan di hari itu pula bukan, aku menghilang?... di hari itulah aku pergi ke Australia… karena seminggu sebelumnya dokter mengatakan ada tumor ganas yang menyerang pembuluh darahku… aku dan keluargaku begitu syock mendengarnya…
Mereka begitu takut kehilanganku… sampai akhirnya dokter memberi kami saran untuk membawaku ke RS yang pengobatannya lebih lengkap,,, dan kami memutuskan untuk pergi ke Australia….”, Reva menjelaskan.
Rhein : “lalu kenapa kamu nggak pernah coba buat hubungin dan jelasin ke abang??”.
Reva :   “nggak bisa Rhein,,, saat itu aku nggak punya keberanian wat jelasin apalagi critain ke kak Kelvin, aku takut buat kak Kelvin sedih.. aku takut kak Kelvin juga ikut sock dan khawatirin aku … aku bingung saat itu,” jelas Reva sambil menangis…
Rhein menenangkan Reva, dia mencoba mengerti apa yang di rasakan reva…Dia mencoba mengerti bagaimana sakitnya Reva saat itu,,, dalam benaknya,,, dia berfikir… mungkin dia akan lakukan hal yang sama andai dia di posisi Reva saat itu.
Dipeluknya Sahabatnya itu…
Rhein: “lalu…. Bagaimana keadaanmu sekarang Rev,,,??? Bagaimana dengan penyakit itu???”.
Reva:    “…..diagnosa dokter meleset Rhein, waktu itu dokter memfonis umurq tinggal beberapa bulan lagi terhitung hari dimana fonis itu di tetapkan padaku,,,tapi untunglah Tuhan masih begitu menyayangiku.. aku masih diberi hidup sampai detik ini”.
Rhein:  “lalu,,,, tentang pengobatanmu di Australia itu bagaimana?? Ada hasil???”,
Reva:    “….huhhft… entahlah Rhein,,, aku hampir putus asa,,, operasiku udah berjalan sampai 2x, tapi hasilnya tetep nihil!!!, makannya itu aku sempetin buat kesini waktu aku tahu kalian pindah kesini,,, aku ingin liat dan ingin habisin waktuku dengan kak Kelvin buat terakhir kalinya….sebelum aku pergi buat selama-lamanya…” jawab Reva lirih.
Rhein terharu mendengar cerita Reva,,,  tak sadar ternyata airmatanya pun dari tadi ikut menetes.
Di peluknya Reva erat-erat, dia pun seakan sudah tak tahu harus berkata apa-apa lagi, mulutnya kelu terkunci oleh isak tangisnya.
Dia tak menyangka, ternyata sahabat yang selama ini dikiranya begitu jahat pada kakaknya dan meninggalkannya begitu saja, ternyata memiliki masalah yang begitu pelik dalam hidupnya.
“…..Bang Kelvin harus tahu tentang ini Rev… kamu harus jelasin semuannya ke dia,” Rhein mencoba merayu Reva.

“….hhhh… aku nggak bisa Rhein,, aku takut buat kak Kelvin sedih,,, aku takut…..” Reva menangis.
“nggak!!!... kamu nggak boleh rahasiain ini terus sama Bang Kelvin Rev…,” timpal Rhein.
Rhein menghentikan pembicaraannya, karena dilihatnya Bang Kelvin yang ternyata sudah berdiri tepat di belakang Reva dari tadi.

Yang terlihat saat itu hanya mata Bang Kelvin yang terlihat berkaca-kaca memandangi mantan kekasihnya itu,
Gimana tidak,,, setelah lama tak bertemu dia harus mendengar cerita seperti itu, terlebih lagi jika melihat kondisi reva yang sekarang,,, hampir tubuhnya terlihat tak lagi bercahaya…seperti dulu.
Mukanya yang pucat, matanya yg terlihat begitu kuyu karena lingkar hitam di bawah matanya itu,,, belum lagi badannya yang terlihat begitu lemah dan semakin kurus….

To Be Continue... :)

Ditunggu ya kisah selanjutnya.. ;)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar