About Me...

Foto saya

I'm Rukhster... :)

"Succes is not a good teacher. Failure makes you humble"_SRK

"
Succes and failure are both part of life. Both are not permanent"_Shah Rukh Khan.

Senin, 11 November 2013




Setapak Jalan Diujung
Pelik berliku..






Tak ada yang tak mungkin,
                  jika hati tlah berkata
                            “Aq Mampu”…..

Karya : Manda Ms
Dibuat, 3 Okt 2012



Hmmm…Cuma kesal yang ada di dalam benak Rhein siank ini…
Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan untuknya.
Uuuhhhh… “aku paling benci menunggu!!!,” teriak Rhein…
“sabar to Rhein,,, paling bentar lagi juga Bang Kelvin dateng…jangan manyun gitu tow..” sahut Dina,,,,
“…..isssssssss… gimana gua gak manyun  lo gini caranya,,,?? dia tu kebiasaan lo maen gak pakai aturan.. udah tau mobil hari ini mau gua pakai buat latihan… mana besok ada pertandingan pula,,” uhhh… tau gini mending tadi gue terima ajakan kak shandy…!!!” keluh Rhein kesal.
Menit berganti menit,,, jam berganti jam,,, tapi bang Kelvin belum terlihat juga batang hidungnya, semakin kesal hati Rhein saat dia liat jam tangannya sudah menunjukan waktu  pukul 13.30 WIB…
Tapi,,, berapa menit kemudian,,, terlihat mobil sedan merah marun muncul dengan kencang dari tikungan yang dari tadi di pelototin oleh Rhein…
“Nahhh… itu dia orangnya…(cletukkk Rhein, saat dia liat mobil itu muncul). Ya.. itulah bang Kelvin.
“Bang!!!..... abang tu dari mana sich… jam berapa ini????!!! udah dari tadi aku sama dina disini nungguin abang ampe kering taux!!!!”,teriak Rhein pada kakaknya…
tau sendiri gimana Rhein kalo marah…. Hahahahaha.
“iya maaf Rhein,” tadi abang ke toko bola bentar nyari bola basket…” sahut kakaknya…
“……Uhhhh… ya udach mana kunci mobilnya… aku mau
langsung cabutt…” Timpal Rhein…
(masih dengan muka manyunnya..)
Bergegaslah rhein masuk kemobilnya… di pacunya dengan kecepatan tinggi mobil itu…
“(hhhh…. Kesal dalam benak Dina)..kebiasaan kalau lagi emosi campur buru2, pasti kebut kebutan, udah kek yang punya jalan aja… dasar Rhein!!!”, keluh Dina dalam hati.



Sampailah mereka di lampu merah tepat didepan pos Satlantas….
Rhein berhenti mendadak seperti biasanya,, dengan gaya setirnya yang ugal ugalan tak di pedulikannya suara suara bising peluit komando -
satlantas di jalan itu…                    
Dia sedang asyik dengan BB.nya.. dan handsfree di kepalanya, seperti biasanya.
“ permisi mbak”, terdengar suara polisi yang menyebalkan…dari balik kaca jendela mobil.
Karena saking asyiknya…. Rhein tak menggubris sapaan pak pol itu, ya terpaksa Dina lah yang menanggapi polisi itu…
dug…dug…dug… (suara detak jantung Dina berpacu kencang,,,)“uhhhh…. Ni polisi ganteng bener yachhh J”, dalam benaknya….hihihhiiii..
“ya pak,,, ada apa yach… maf pak temen saya kupingnya rada budek…. Hehehhe”, sahut Dina.
“Ya gak papa mbak, tapi bisa tolong minta temen mbak itu untuk menepikan mobilnya ke sebelah sana sebentar”, tunjuk polisi itu kearah pos polisi.
“ta…tata..pi pak, ada apa yach… kek.nya qt nggak habis melakukan pelanggaran…dech,” sahut Dina…
Diliriknya Rhein yang ternyata dari tadi memang tak sedikitpun menggubris kalau ada polisi yang sedang mencegat jalannya…. Saking kesalnya….soalnya liat kelakuan temannya itu,,, di pukulnya pundak Rhein  dengan kencang,
“0yyyy….. Rhein…. Bukak tu handfree lue!!!,” teriak Dina tepat di kuping Rhein.                 
“liat tue kayaknya kita bakal kena tilang taux,” sahutnya lagi…
“Whaaaattttt!!!!!..... yang bener aja lue… memangnya kita nglakuin  pelanggaran apa pak….????” Sahut Rhein.
“mari ikut saya ketepian sana dulu, nanti saya jelaskan,” sahut polisi itu pula dengan ramah.
Menepilah mereka mengikuti petunjuk polisi tsb.
‘mbak yng nyopir bisa keluar sebentar,” sahut polisi yang dari tadi sepertinya sudah mengawasi gerak mobil Rhein dari dalam pos satlantas  itu….
Uhhhhh….. kenapa lagi ni Rhein, lue sihh ada2 aja… nyetir mesti pakai handfree segala”, bisik Dina kesal…
“diem aja lue… gua nggak ngerasa nglakuin pelanggaran tauk…tadi di lampu merah kita selalu berhenti kan??? Trus apa pula hubungannya sama handsfree gua????, aneh lue,” timpal Rhein.
“bisa tunjukan SIM dan STNK.nya dek…” kata polisi itu..
“tunggu tunggu tunggu… pak, tapi kalo kita boleh tau kita ini salah apa ya pak??? Perasaan dari tadi kita gak melanggar  peraturan apapun”, sahut Rhein kesal.
“ya… baiklah saya akan jelaskan, begini….mungkin mbak berdua tadi tidak sadar atau mungin tidak liat ada tanda jalur searah di depan sana….” Kata pak pol mencoba memberi penjelasan.
“……Hahhhhhhh!!! Dina n Rhein melongo,,,
Sejak kapan jalan ini jadi jalur searah pak???? Seumur-umur saya lewat sini, jalur ni tu jalur alternative pak….. jalur dua arah, tapi kenapa jadiiii…????” mereka berdua bingung.
“begini mbak… pas di tikungan sana tadi ada perbaikan jalan dan di sana pun sudah di buat petunjuk darurat untuk pengemudi tentang hal itu..” kata polisi memberi penjelasan.
“apa mbak berdua tidak melihat plang besar di sana???” timpal polisi itu sedikit emosi melihat simbatan Rhein yang begitu ketus seperti tak mau di salahkan.
“baiklah!!... kita minta maaf pak, mungin memang salah kita yang tak melihat plang di belakang tadi karena kita tak begitu konsen,,” sahut Dina menenangkan keadaan.
“terus qt harus bagaimana selanjutnya pak???”, Tanya Dina.
Untung polisi itu baik hati…. Karena surat-surat Rhein lengkap mereka dilepaskan, hanya sebatas diberi penjelasan dan pengarahan…
Tapi tetap aja dalam hati Rhein dia begitu kesal dengan polisi itu.
“memperlambat jalanku saja!!!!, alamak…!!!!!! Mati gue telattttt!!!!” kata Rhein.
“ni gara2 polisi gila itu!!! sialan sialan sialan……”!!!!!
“udah to Rhein, nggak usah marah marah terus kenapa? ngGak puas apa dari tadi lue marah-marah terus sampai akhirnya kita nyaris kena tilang gara-gara itu???” kata Dina yang mulai kesal sama sikap Rhein.

“Hmmmm…. Terserah apa kata lue dech din, yang pasti gua kesel banget!!” sahut Rhein emosi.
Beberapa menit kemudian sampelah mereka di tempat latihan.
“uhhhh…untung Cuma telat beberapa menit (pikir Rhein),”

“Hayy Rhein, kok baru nyampe???” sapa cowok ganteng yang dari tadi rupanya ngeliatin kedatengan rhein.
Ya… dia lah yang namanya kak Shandy. Kakak kelas Rhein dan dina, sekaligus kakak seperguruan Rhein di Taekwondo Club’s.
“hmmmm…. Habis ketilang kak kita,hahahahaha…” sahut Dina, nyerocos...
(rhein meringis)
“….apa??? hahahaha… rhein pembalap jalannan ini bisa ketilang polisi juga tow….”,goda shandy
“ahh… kak shandy ini,,,,” rengek Rhein sedikit kesal.

Tktktktktkktktkt…..
Jam menunjukkan pukul 5 sore, pertanda latihan hari ini selesai.
“Rheinnnn,,,!!!!” panggil shandy
        “Iya kak, ada apa?? Sahut Rhein
“Kamu masih marah sama kakak????,
“Eikkkkttt???? (Rhein mengernyitkan keningnya)…marah untuk apa???”, jawabnya..
“Yang tadi karena perkataanku tadi tentang tilang…hehehe(Shandy tertawa kecil)
“…hmmmm.. nggak kok santai aja, aku tau kakak Cuma ngajak becanda, tapi maaf yach, garinggg!!! Wakakakakakakkk
(Rhein berlari kearah parkiran)
Ehhhh… Rhein, awas ya kamu!!!! (Shandy mengejar Rhein)

Di parkiran Taekwondo Club’s
Tepat didepan mobil shandy dan Rhein
Shandy : “Rhein…
Rhein : “Iya… kenapa??? Isss… cenyum-cenyum sendiri,,, kakak salah makan obat yach…wkwkwkwk
Shandy : “uhhh…sialan lue..”
Rhein : “biarin… weeekkk!!! :p yuk ,din kita cabut.(Rhein menggandeng Dina masuk ke mobilnya dan memacu mobilnya dengan kencang meninggalkan Shandy sendiri)
“….daaaaaa kak shandy,” terdengar suara gak jelas itu dari kejauhan,,
Sampe disitu lah percakapan mereka hari ini


Bab II
Sebuah Pengakuan

HUaemmmmm…..(Rhein menguap)(@#@#@@#@@@#???)
Dibukanya matanya dengan malas….
“Rheinnnnn!!!!”, terdengar suara mamanya memanggil..
Hmmmm… iya maaa,,,” saut Rhein, bentar lagi… Rhein masih ngantuk, lagian hari ini Rhein gak ada Kelas kok jadi Rhein libur,” sahut Rhein lagi,(Rhein tidur lagi)

“….woyyyy rhein bangun… lue sekolah apa gak,??? Hari ini kelasnya pak maulana loe,” Datang Dyna ngebangunin.
“Ehmmmmm…. Kenapa sih dyn??? Gw males ahhh…Loe aja dech berangkat sana…!!!”,rengekk  Rhein
“Uhh… dasar pemalas,” pikir Dyna.

Di SMA BINA BANGSA
Tepat di depan kelas IPA I, ya… kelas Dyna dan Rhein biasanya belajar.

Dyna duduk sendiri, seperti biasanya bangku sebelahnya itu teramat sering kosong, karena itulah bangku Rhein… anak kesayangan wali kelas yang terkenal otaknya encer, jago taekwondo, kebanggaan sekolah dalam PORSENI-PORSENI tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya…. Hmmmm… ya kalo dipikir2 memang banyak prestasi Rhein,, tapi tetep aja… Rhein ya Rhein,, si Gadis taekwondo sekaligus tukang bolos, hahahaha….
Dyna mengernyitkan keningnya saat dia dengar pembicaraan-pembicaraan teman sekelasnya tentang Rhein, sahabatnya itu)

Dalam benaknya Dyna bergumam,,,,,
”kalau difikir-fIkir, memang benar semua yang mereka omongin tentang Rhein, andai dia tak punya segudang prestasi itu, mungkin dia bisa terus mengulang tiap tahunnya karena kebiasaan buruknya ini,,hmm… tukang bolos…ccccrrrrrtttttkkkk”
“Hmmm…tapi sudahlah, walau gimanapun Cuma dia sahabat terbaikq.. dimataq dia yang terbaex,, dan dia memang berhak dapat penghargaan sekaligus keistimewaan seperti ini,” pikir Dyna.
Tersentak Dyna dari lamunannya, tiba-tiba ada sosok tinggi tegap berdiri di sampingnya
“hyy…Dyn, mana Rhein??? ngGak berangkat lagi ya anak itu”, sapa anak itu
“eehmmm.. kamu to Dim, iya ne, tadi sihh udah aku samperin  kerumahnya kayak biasanya,tapi…huhhhh”, Dyna menghela nafas panjang.
“…hahahahha.. tapi dia masih molor dan bilang,” udahlah Dyn loe aja yang berangkat sana…hahahhaha iay kan Dyn???? Tanya Dimas seraya meledek Dyna.
“…ahhh lue mas, tau aja… ehhh… kantin yuk,,,” ajak Dyna

Di kantin sekolahan,
“ehhh…. Loe Dyna kan sahabatnya Rhein,” sapa cewek berambut panjang yang entah sejak kapan berdiri di dekat meja dimana Dyna sama Dimas duduk.
“…mmmm…iya, kenapa??? Oyyy… kamu sapa??? Anak baru ya, kok keknya Gw gak pernah liat lue di sini,??” sahut Dyna
“….he.emt, kenalin gw Reva, anak pindahan dari jogja, gw anak IPA II,” jawab Reva.
“owww…. Oiya tadi lue Tanya Rhein ada urusan apa yach kalau boleh tau, biar entar bisa gw sampein ke dia..soalnya kebetulan hari  ini dia ggak masuk,” sahut Dyna lagi dengan ramah.
Mereka ngobrol terus sampai terdengar bel tanda waktu istirahat usai tiba, dan ternyata Reva itu teman SMP Rhein waktu di jogja dulu, sekaligus mantan pacar Bang Kelvin, dia pindah pun itu karena dia ingin ketemu Bang Kelvin lagi, usut punya usut ni,,,, ternyata dia masih cinta mati sama Bang Kelvin….hahahahhaha… ada ada aja.
6.
Bel pulang berbunyi….
“ehhh… Dyn, tadi loe bilang rumah loe deket sama rumah Rhein kan???” Tanya Reva.
“….he.emt iya, kenapa??? loe mau bareng gw kesana??” sahut Dyna lagi.
“iya iya, boleh kan???”… jawab Reva
“of course….. J” jawab Dyna.
Bergegaslah mereka ke tempat Rhein….
Sampainya di rumah Rhein,,,, mereka liat pak Mahmud sopir keluarga Rhein yang lagi ngepak barang ke mobil,,,,,
“eh… ada neng Dyna… nyari non Rhein ya neng???” Tanya pak mahmud ke Dyna.
“….iya pak, mana Rheinnya… oh ya ini barang siapa pak?? Kok banyak banget???” sahut Dyna pula,
“ow…. Ini barangnya den Kelvin neng,,,sama punya non Rhein juga, o iy non Rheinnya ada di taman belakang neng, ge liatin den Kelvin yang lagi asyik sama lukisannya” jawab pak Mahmud.
“……hmmmm…memang mereka mau kemana pak???” Reva menyela pembicaraan.
“ow… biasa neng, lo den Kelvin naik gunung kan, non Rhein pasti gak mau ketinggalan…hehehehe” jawab pak mahmud sambil terkekeh.

Masuklah mereka dan meninggalkan pak Mahmud di teras depan,
Entah kenapa terlihat mata Reva berkaca melihat Bang Kelvin dari belakang, seperti ada kerinduan yang teramat dalam.
“Uuhhh…wajarlah mungkin karena mereka yang tlah lama tak bertemu…” pikir Dyna.
“Heyy….Rhein!!!” Dyna mengejutkan Rhein.
“Huuuuuu…. Loe ngagetin aja” jawab Rhein, semakin kaget Rhein melihat ada….. ada teman lamanya berdiri tepat di samping Dyna,,,,
Sedangkan Dyna, Tanpa berkata apa apa, Dy yang memang naksir berat ma Bang Kelvin, langsung saja mendekati Bang Kelvin dengan gaya centilnya…hohohohohooh…

Di lain tempat,, Rhein mendekati Reva yang entah kenapa sejak tadi tiba-tiba mukanya berubah menjadi kelu…
“apakabar Va…???”, Tanya Rhein…sambil di peluknya erat sahabat lamanya itu.
“baik…. Kamu???”, jawab reva, membalas pelukan Rhein.
“kenapa kamu bisa sampai disini Va, kemana aja kamu selama ini???, Bang Kelvin nyariin kamu kemana-kemana…,” timpal Rhein lagi sambil memalingkan pandangnnya kearah abangnya yang sejak tadi asyik ngobrol dengan Dyna yang ternyata belum juga menyadari adanya Reva saat itu.
Pandangan reva menjadi sangat kelu,, mukanya berubah menjadi pucat…. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang…
Matanya hanya tertuju pada sosok yang ada di depan sana… ya,,, pada Bang Kelvin.
Seperti ada yang begitu ingin dia ungkapkan, perlahan bibirnya pun terbuka,,,, dia menjawab pertanyaan rhein dengan terbata-bata dan airmatanya tiba-tiba menetes,,,
Reva : “….aku bingung harus memulainya dari mana Rhein, ceritanya begitu panjang dan begitu menyakitkan untuk ku ungkapkan,,,, di lain sisi aku begitu ingin memeluk kak Kelvin,,,, aku rindu padanya Rhein….sangat sangat merindukannya,,,, tapi…
…hhhh”, (reva menghentikan pembicaraannya…)
Rhein : “ta..pi apa va????”, Tanya Rhein semakin ingin tahu.
Reva:    “…. Saat itu, tepat dimana setelah pesta ultahku, dan di hari itu pula bukan, aku menghilang?... di hari itulah aku pergi ke Australia… karena seminggu sebelumnya dokter mengatakan ada tumor ganas yang menyerang pembuluh darahku… aku dan keluargaku begitu syock mendengarnya…
Mereka begitu takut kehilanganku… sampai akhirnya dokter memberi kami saran untuk membawaku ke RS yang pengobatannya lebih lengkap,,, dan kami memutuskan untuk pergi ke Australia….”, Reva menjelaskan.
Rhein : “lalu kenapa kamu nggak pernah coba buat hubungin dan jelasin ke abang??”.
Reva :   “nggak bisa Rhein,,, saat itu aku nggak punya keberanian wat jelasin apalagi critain ke kak Kelvin, aku takut buat kak Kelvin sedih.. aku takut kak Kelvin juga ikut sock dan khawatirin aku … aku bingung saat itu,” jelas Reva sambil menangis…
Rhein menenangkan Reva, dia mencoba mengerti apa yang di rasakan reva…Dia mencoba mengerti bagaimana sakitnya Reva saat itu,,, dalam benaknya,,, dia berfikir… mungkin dia akan lakukan hal yang sama andai dia di posisi Reva saat itu.
Dipeluknya Sahabatnya itu…
Rhein: “lalu…. Bagaimana keadaanmu sekarang Rev,,,??? Bagaimana dengan penyakit itu???”.
Reva:    “…..diagnosa dokter meleset Rhein, waktu itu dokter memfonis umurq tinggal beberapa bulan lagi terhitung hari dimana fonis itu di tetapkan padaku,,,tapi untunglah Tuhan masih begitu menyayangiku.. aku masih diberi hidup sampai detik ini”.
Rhein:  “lalu,,,, tentang pengobatanmu di Australia itu bagaimana?? Ada hasil???”,
Reva:    “….huhhft… entahlah Rhein,,, aku hampir putus asa,,, operasiku udah berjalan sampai 2x, tapi hasilnya tetep nihil!!!, makannya itu aku sempetin buat kesini waktu aku tahu kalian pindah kesini,,, aku ingin liat dan ingin habisin waktuku dengan kak Kelvin buat terakhir kalinya….sebelum aku pergi buat selama-lamanya…” jawab Reva lirih.
Rhein terharu mendengar cerita Reva,,,  tak sadar ternyata airmatanya pun dari tadi ikut menetes.
Di peluknya Reva erat-erat, dia pun seakan sudah tak tahu harus berkata apa-apa lagi, mulutnya kelu terkunci oleh isak tangisnya.
Dia tak menyangka, ternyata sahabat yang selama ini dikiranya begitu jahat pada kakaknya dan meninggalkannya begitu saja, ternyata memiliki masalah yang begitu pelik dalam hidupnya.
“…..Bang Kelvin harus tahu tentang ini Rev… kamu harus jelasin semuannya ke dia,” Rhein mencoba merayu Reva.

“….hhhh… aku nggak bisa Rhein,, aku takut buat kak Kelvin sedih,,, aku takut…..” Reva menangis.
“nggak!!!... kamu nggak boleh rahasiain ini terus sama Bang Kelvin Rev…,” timpal Rhein.
Rhein menghentikan pembicaraannya, karena dilihatnya Bang Kelvin yang ternyata sudah berdiri tepat di belakang Reva dari tadi.

Yang terlihat saat itu hanya mata Bang Kelvin yang terlihat berkaca-kaca memandangi mantan kekasihnya itu,
Gimana tidak,,, setelah lama tak bertemu dia harus mendengar cerita seperti itu, terlebih lagi jika melihat kondisi reva yang sekarang,,, hampir tubuhnya terlihat tak lagi bercahaya…seperti dulu.
Mukanya yang pucat, matanya yg terlihat begitu kuyu karena lingkar hitam di bawah matanya itu,,, belum lagi badannya yang terlihat begitu lemah dan semakin kurus….
Hhhh…. Menetes lah airmata bang Kelvin,,, tanpa berkata apapun di peluknya Reva….
Rhein pun yakin abangnya itu sudah mendengar semua pembicaraan mereka dari tadi…. Dia bisa merasakan kesedihan kakaknya sekarang.

“….kenapa kamu nggak pernah kasih tahu kakak Rev???” sudah tak begitu pentingnya kah kakak dimatamu sampai-sampai hal sepenting itu pun kamu rahasiakan padaku???”, Tanya Bang Kelvin,
Bertubi pertanyaan keluar dari mulut Bang Kelvin, karena dia ingin dapat penjelasan dari Reva, dan memang sampai detik ini Bang Kelvin pun masih sangat mencintai Reva.
Reva hanya bisa terdiam dan menangis di pelukan bang Kelvin… nafasnya tak terdengar jelas lagi… karena airmatanya yang dari tadi tak mau berhenti,,,
begitu juga dengan Rhein dan Dyna pun seakan ikut terharu melihatnya.

Keberangkatan Rhein dan Bang Kelvinpun akhirnya di tunda…
Sampai esok hari…reva merengek untuk ikut bang Kelvin naik gunung pagi ini,,,,
Tapi Bang Kelvin menolaknya, bang Kelvin mengkhawatirkan kondisinya.
Diantarkannya Reva ke rumahnya, sekalian dia pun ingin bertemu dengan orang tua Reva, karena memang mereka sudah lama tak bertemu.
Orang tua Reva sejak dulu sudah menyetujui hubungan mereka, makanya mereka menyetujui permintaan anak semata wayangnya itu untuk pindah ke Bogor kemarin, mereka pun ikut menjelaskan permasalahan yang sebenarnya pada bang Kelvin.

Sepulangnya dari rumah reva, Bang Kelvin kembali mengepak barang barangnya bersama Rhein, karena hari ini Pak mahmud sedang ijin pulang ke kampungnya.
Biasanya Dyna dan Dimas nggak mau ketinggalan setiap mereka mau pergi pendakian, tapi entah ada apa dengan Dyna hari ini, dy tak ada kabar… jadi hanya Dimas, Alwi, dan Kak Renata lah yang ikutan…
Dimas, dan Alwi itu teman dekat Rhein juga selain dyna, sedangkan kak Renata itu teman sekampus bang Kelvin, tapi sudah dianggap kakak sendiri oleh rhein….

Seperti biasanya mereka berangkat dengan perlengkapan yang sudah dipersiapkan, tak lupa mereka periksa semua kondisi mobil, agar tak terjadi hal yang tak diinginkan dalam perjalanan nanti, karena biasanya medan yang akan mereka lewati nantinya cenderung medan-medan berat yang jalannya curam serta bebatuan.
Rencananya 3 hari mereka camping, tapi sesampai disana ternyata banyak sekali hambatan yang mereka dapet, dari yang mobil tiba tiba mogok lah, kehabisan persedian airlah… ternyata bang Kelvin belum sempat survey lokasi…
 “huhhh…. Bang Kelvin ini, gimana bisa lupa hunting lokasi sih Bang??? Lo gini critanya gimana coba?? Bisa-bisa qt terjebak berhari-hari di sini,, untung aja kita belum sampai lokasi, baru setengah perjalanan menuju puncak…” keluh Rhein.
11.
Kayak biasanya Rhein pasang muka manyunnya,…..
Untung ada Alwi.. dia anak Mekanik. Jadi selama mobil mogok dia lah yang benerin mobilnya. Cukup lama mereka menunggu sampai mobil bener-bener kelar di garap sama Alwi, hampir 2 jam.
“mana hari udah mulai gelap…” pikir Rhein dan Kak Rena.
Terpaksa mereka melanjutkan perjalan esok hari sekalian nunggu mesin mobil biar dingin dulu.

Mereka bergantian untuk jaga malam, selang 2 jam mereka bergantian.
Tepat di giliran Rhein dan Alwi yang jaga… yang lain gantian tidur.. Alwi melihat ada bayangan berkelibatdari kaca spion, ditolehnya ke belakang… tapi tak ada apa-apa,
“Ahh… paling hanya perasaan gw aja,” pikirnya…
Tapi kali ini, Rhein pun melihatnya, “…lo liat gak al, tadi yang lewat…???” Tanya rhein mulai cemas.
“ya…aku juga lihat tapi entah apa tak jelas…” jawab Alwi.
Tiba-tiba bulu kuduk mereka menjadi merinding, karena tempat mereka beristirahat saat itu benar-benar sepi… bayangin aja di tengah hutan menuju gunung jookkk!!!!”
Apapun bisa muncul dan terjadi tiba-tiba kalau kita nggak waspada.
“Ahh… sudah lah Al,,, mungkin hanya bayangan biasa,” kata Rhein mencoba menenangkan suasana.
“hmmm…ya semoga saja”, jawab Alwi…
Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh suara…“Sroaakkkkk!!!!”, dari arah sebelah sana, tepat di belakang mobil.
Terkejutlah mereka….
Rhein semakin waspada, dengan belati yang biasa dia bawa kalau lagi pendakian….buat jaga-jaga kalau-kalau itu binatang buas pikirnya…

Saat mata mereka tertuju pada suara tadi… tiba-tiba mereka di kejutkan oleh segerombolan orang-orang bersarung di kepala(seperti ninja)
Langsunglah mereka bersiap…karena mereka yakin mungkin ini yang tadi di ceritakan oleh penduduk kampung sebelah tentang perampok yang dijuluki “bajing loncat” oleh orang-orang.
Alwi langsung membangunkan Bang Kelvin dan yang lainnya..

Rhein dengan berani keluar dari mobil…di hempasnya todongan belati salah satu dari perampok itu…dengan tendangannya.
Keluar pula Dimas, alwi dan Bang Kelvin dari dalam mobil membantunya….
Untung mereka adalah anak-anak taekwondo, kecuali Alwi… diapunya Karate dan sedikit jurus silat yang di ajarkan oleh ayahnya. daN itu sangat membantu Rhein melawan penjahat-penjahat itu.
Perampok-perampok itu kualahan menghadapi mereka ber-3, kak Renata n Rhein tertawa terkekeh-kekeh melihat pimpinan mereka lari terbirit-birit karena pukulan dari Alwi dan Bang Kelvin.

Tak terasa hari sudah mulai pagi lagi,,, terlihat terik matahari dari balik dedauan hutan yang rindang, mereka melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita,,,,pendakian selesai.Mereka melanjutkan perjalan pulang, untungnya tak ada hambatan yang berarti.

Sampai di rumah Bang Kelvin di kejutkan dengan kabar dari Ayah Reva, Beliau bilang Reva masuk RS lagi, kondisinya kritis.
Pergilah mereka ke RS, rasa capek tak lagi di hiraukan oleh Bang Kelvin, semua rasa itu tertutup oleh rasa cemasnya melihat kondisi reva.
Begitu juga dengan rhein.
Sampai beberapa jam berlalu mereka diluar melihat Reva, yang sedang di tangani para medis. Dokter keluar memberitahu kalo Reva sudah lewat dari masa kritisnya, dan dia sudah bisa di jenguk.
Terlihat binar kelegaan dari wajah Bang Kevin begitu juga dengan orang tua Reva…

Hari ini Rhein masuk sekolah, dan Bang Kelvin sibuk merawat Reva di Rs.
“ma…pa… Rhein berangkat sekolah dulu ya… J,” kata rhein sambil menyium papa mamanya setelah dia menghabiskan telur rebus dan susunya seperti biasa.
“….iya nak, oiya papa liat sikapmu manis banget beberapa hari ini, Rhein, hayow ada apa???”, ledek papanya.
“…habis di tembak cowok mungkin pa…”, timpal mamanya pula.
 “….hehehehhe,,, gak ada apa apa kok pah… papa mama ini ada2 aja..” jawab Rhein tersenyum malu.
“ya udah pa ma… Rhein berangkat dulu yach… da telat ne… daa pa daa maa…” jawab rhein berlari keluar.
Di pacu nya mobil sedannya dengan kencang kek biasanya.
Di parkiran sekolah dy bertemu dengan Raffi… ya,,, itulah anak IPA 2,,, mantan rhein waktu di kelas 2 dulu.
(mobil mereka bersandingan)…
“hay… Rhein”, sapa Raffi… dengan senyum manisnya.
Karena suasana hati Rhein lagi bagus… dijawabnya pula dengan senyum manis…”
“ehh… loe ffi… kemana aja ne gak nah keliatan”, jawab Rhein.
Raffi keluar dari mobilnya..setelah dy parkirkan mobilnya, begitu juga dengan rhein.
“….hahahahha, ada-ada loe Rhein, gw disini-sini aja dech perasaan, loe tu yang kemana, jarang masuk skul… penyakit lama tau gx…”, jawab Raffi.
“…uhh sialan lue…hehehehe”, jawab Rhein malu.
“oiya.. denger-denger kemarin loe habis naik gunung yach… ke lahat yach???”, raffi melanjutkan pertanyaannya…
“….hmmm… iya, ehh… cerita2nya lanjut di sana aja yach….sambil dudukan, coz aq juga sambil mau nylesein novelq..mumpung moodq ge bagus…gimana???”, ajak Rhein
“+…hmmm ok, ayuk…”, jawab Raffi pula.
Obrolan mereka berlanjut sampe bel masuk berbunyi.

Didalam kelas, Rhein clingak-clinguk nyariiin Dyna, dilihatnya bangku sebelahnya masih kosong.
Dalam hatinya… “kemana tu anak yach???, kok jam segeni lom nongol juga”.
“…nyariin Dyna ya Rhein???”, Tanya teman di sebelahnya.
“…he.emt ne… dy kemana???”, jawab rhein penasaran.
“2 hari dyna gak masuk coz sakit… mang kamu gak tau yah???”, jawab temannya tadi.
“….apaaa?!!!... 2hari dy gak masuk?? Aq beneran gak tau, coz maren aq ru balik dari naik gunung Des…”, jawab Rhein lagi.
14.






“Hmmmm… pantes aja tu anak gak ada kabarnya, smz gak telp juga gak,,,,”, pikir Rhein.

Pulang sekolah Rhein langsung pergi ke kost.an Dyna, wat mastiin dy sakit apa, kasihan kan dy disini gak ada siapa2, ortunya di Bandung semua.
…..tok tok tok!!!!! (suara pintu di ketok)
“..Dyn…. Dyna…. U di dalem kan???”, seru rhein dari luar.
Lama rhein mengetuk tapi tak juga ada sahutan… di tengoknya berulang jendela kamar Dyna… tapi sepertinya kosong..
“Hmmm… loe dimana sih Dyn,,” pkirnya…
Selang bberapa waktu ada temen kost Dyna datang, entah dari mana.
“…ehhh ada rhein, nyari Dyna yach???”, sapa nya.
“…he.emt ne… u tau gak dy kemana??? Tadi aq di kasih tau ma anak skul, katanya 2hari dy gak masuk coz sakit, makane ini gw samperin dy, tapi ri tadi gw ketok2 gak ada yang nyembat.. kira2 kemana yach???”, jawab Rhein mulai kesal.
“….ow iya, tadi sebelum gw berangkat kerja, Dyna nitip ini ne ke gw, katanya suruh kasih ke loe kalo aja u ke sini.”, jawab temen Dyna(sambil memberikan selembar kertas yang ternyata isinya surat dari Dyna wat Rhein….
Rhein penasaran ma isi surat itu…. “Apaan C ne si Comel, pake surat2.an pula,,,,hmmm”, pikirnya dalam hati.
Di bukanya perlahan surat itu…

15.


---
Dear Rhein,

Rhein yang manis…
Yang bawel… n yang super nyebeliiinnn… hehehe
Gw pergi dulu yach wat beberapa waktu,,,, u gak usah susul or cariin gue…
Coz gw pasti balik kx…ne Cuma cz gw ada urusan yang rus gw selesain dulu.
Gw pasti kasih kabar kok lo masalah gw dah kelar….
Cory lo gak cerita dulu sebelumnya ma loe… n gw juga cuma
Kasih loe kabar lewat surat kek gini, coz gw mikirnya pasti u lom pulang juga ri pendakian.
Salam aja wat om tante, ma bang Kelvin…
Dan wat loe… jangan males2.an lagi, jangan kebanyakan mbolos
Ok. Sob… jaga diri u ya selama gw gak ada…
Gw pasti kangen banget ma loe…

“Dyna J.
---
16.
….hufft…(Rhein menghela nafas panjang..)
Dalam hatinya dy menangis,,,
“..dyn kenapa loe tiba-tiba pergi gini sih??? Gw ma sapa ntar loe pergi???”, keluh Rhein sedih.

2hari berlalu dilihatnya bangku Dyna masih kosong,,, 3 hari berikutnya begitu pula… sampe hampir 2 bulan Dyna tak juga ada kabar.
“..hhhh… loe kemana sih Dyn???? Numb loe gk aktif semua, gw send pesan difb jg gak lo tanggepi…gw kangen tau gak”, keluh Rheina.
Lamunan Rhein buyar saat dy di kejutkan ma suara gaduh anak sekelasnya….
Entah apa yang mereka sedang bicarakan, Cuma terdengar samaran Rhein pun bukan anak yang tak terlalu tertarik dengan gosip2 gak jelas kek anak2 yang lain, tapi entah kenapa x ne,,, dy begitu penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, Rhein pun mencoba mencari tahu.

“…ee… hemm..khemm.. ada apa ne, kok keknya gaduh banget ri tadi??”, Rhein memotong pembicaraan mereka.
Mereka yang tadinya dengan santai ngegosip, tiba-tiba jadi salting gak jelas dan menutup mulut mereka rapat2, melihat Rhein yang tiba-tiba muncul, dan memotong pembicaraan mereka.
Seperti ada yang mereka sembunyikan dari rhein. Rhein pun semakin penasaran, ,
“…woyyy,,,pada punya mulut gak sih… aq nanya di jawab kek!!!”, Tanya Rhein, yang mulai emosi coz dy ngerasa ada yang gak beres dengan topic yang mereka bicarakan.
“…gak..gak… gak ada apa apa kok Rhein, qt Cuma ngegosip biasa”, jawab salah 1 dari mereka(dengan mimik wajah yang sedikit ketakutan)

Melihat mimik wajah temannya yang seperti itu, rhein menjadi semakin penasaran..

17.
“yakin…?? loe semua yakin gak ada apa-apa??? Kenapa gw datang x’an langsung diem??!!! Kek ada yang x’an sembunyiin ri gw?? Hah.. jawabbb!!!”, Tanya Rhein lagi (sambil membentak).
“…..uhhh… ada macan betina lagi marah coz jiwa.a gak imbang karena pasangannya gak ada kabar….hikz..hikz…hikz… kasian hhahahahah..”, sahut temannya Rhein yang di pojok kelas(musuh sekelas).
“….eh!! diem loe yach…. Gw gak lagi nanya loe!!”, jawab Rhein pula dengan nada yang semakin keras (sambil memukul meja)
Rhein gak mau semakin emosi melihat ekspresi teman2nya, dy pergi keluar kelas… tapi belum sampe di depan pintu kelas, terdengar suara temannya memanggil dari dalam kelas…
Fika:    “..Rheiiinnn…!!!”..
Rhein pun menoleh… itu suara fika, dy juga ikut dalam gerombolan tukang ngrumpi tadi.
Rhein: “ada apa lagi???”, jawab Rhein ketuus…
(Dihampirinya Rhein…)
Reva:    “aq mau ngomong bentar ma loe, tapi gak disini…”, jawabnya.
Rhein:  “ok… qt ke kantin!!”, jawab rhein masih dengan nada ketusnya.
Pergilah mereka ke kantin sekolahan, Disana Fika menjelaskan n menceritakan semuanya ke Rhein
Fika bilang tadi mereka membicarakan kabar yang memang lagi gencar di bicarakan di sekolah mereka….
Rhein semakin bingung dan penasaran,
Rhein:  “apa maksud loe?? Kabar apa?? N ada hubungan apa ma sekolahn qt???”, Tanya Rhein mendesak.
Reva:    “…hmmm,, begini Rhein, entah sapa yang menempel berita di Koran itu di madding, isinya tentang siswi SMU yang di duga Siswi SMU qt, coz di situ ditulis tu cew tertangkap tanpa menggunakan identitas yang jelas, dy kedapatan sedang berada di sebuah caffe di daerah semarang, berduan dengan om-om hidung belang, dy di tangkap dengan tuduhan menjual diri!!!”, jawab fika mencoba menjelaskan.
18.
Rhein: “…lantas???!!! Apa yang wat x.an begitu siru membicarakannya, dan kenapa pula x.an harus takut padaq waktu tadi qtanya pura-pura tak ada ap-apa???”, Tanya Rhein semakin emosi.
Reva:    “…tenang dulu Rhein, jangan emosi dulu…di Koran itu kan tertulis letak caffe itu beralamat di semarang, tadinya qt gak percaya, eh masak iya anak sekolahan qt Cuma mw jual diri aja mpe semarang, kecuali…..???”, jawab fika tak meneruskan kalimatnya.
Rhein:  “..kecuali ap????!!!!”, Tanya Rhein lagi.
Reva:    “kecuali… siswi itu memang dulunya nah berdomisili di Semarang…dan setelah qt pikir2 dan coba inget, melalui data anak2 sini, Cuma ada 1 nama yang dulunya dari Semarang n ortunya pun masih di Semarang, n itu… Dyna!!!”, jawab fika.
Rhein:  “….cukuppp!!!!,, maksud loe, x.an semua berfikir gadis itu adalah Dyna gitu??!!!, gak mungkin!! Gw kenal siapa n bagaimana Dyna. Munkin semua bukti mengarah ke dy karena statnya dulu dy nah berdomisili di Semarang, tapi bukan berarti itu dy kan???”, jawab Rhein kesal
Reva:    “…sekali lagi q dengar x.an bicarakan hal itu di depanq,, n ungkit2 Dyna tentang itu,,, x.an berurusan m,a gw!!!”, teriak Rhein mengancam.
Rhein pergi meninggalkan Fika di kantin.
Bergegas dy ke madding untuk memastikan berita itu. Tetap sama, dy yakin gadis itu bukan Dyna Sahabatnya, Dyna gak mungkin senekad itu.

…hufftttttt… ditariknya nafasnya dalam2…
“Ya Allah,, kemana engkau sembunyikan Sahabatq itu,, kenapa hingga detik ini pun tak Kau beriq petunjuk tentap keberadaannya”.
(dalam hati Rhein benar2 berharap lo berita ini bukan tentang Dyna)

19.
Hari ini seperti biasa Rhein masuk dengan langkah malasnya karena Dyna,,, ya,,, Dyna tak ada di sampingnya.
Padahal dy berharap Dyna ada di sampingnya sekarang, biar dy bisa buktikan pada teman2nya kalo apa yang mereka bicarakan tempo hari itu tak benar.
Tapi semuanya mungkin tinggal harapan semu. RHein mulai putus asa, andaikan berita itu memang benar, dy tetap yakin Dyna pasti punya alasan kuat kenapa dy melakukan itu,,,, karena Rhein yakin n dy kenal betul siapa Dyna sahabatnya.

Dalam hatinya,”Gak!!!... aq gak boleh trus diem kek gini, aq harus cari tahu dimana Dyna skarang”.
Sore ini Dyna pergi ke kost Dyna dulu, dy temui ibu kost Dyna,,,,dy bermaksud ingin mencari tahu alamat rumah Dyna yang di Semarang.
“permisi buk… saya Rhein temen sekolahnya Dyna, yang dulu pernah ngekost di tempet ibu ini, dy anak SMU BINA BANGSA depan sana bu…”, kata Rhein memperkenalkan diri.
“oiya nak, ada keperluan apa yach??”, Tanya ibu kost.
“…begini bu, semenjak Dyna keluar dari kost.an ibu, dy tak pernah ada kabar lagi sampai detik ne.. saya bingung mencarinya kemana-mana, dan maksud saya kemari ingin bertanya tentang alamat rumahnya yang di Semarang, apa ibu tau???”, Tanya Rhein.
“..ow… begitu, baiklah sebentar ya ibu ambilkan dulu alamatnya”, kata ibu kost(masuk ke dalam kamarnya)

Selang beberapa menit, ibu kost keluar dari kamarnya membawakan selembar kertas berisi alamat Dyna.
        “..ne nak alamatnya”, kata ibu itu.
        “….ya bu, makasih banyak atas bantuannya…kalau begitu saya
Permisi dulu bu, sekali lagi terima kasih bu,” jawab Rhein(bergegas pulang)
Dari rumah ibu kost, Rhein coba memperhatikan alamat rumah Dyna,
Hmm… ya, besok aq coba cari”, pikirnya.

20.
Hari ini Rhein ijin sekolah beberapa hari, dy langsung terbang ke Semarang untuk mencari tahu tentang Dyna.
Apa daya, dy tak kenal siapapun di sana, jadi dy meminta Alwi untuk menemaninya.
Sesampainya di sana, mereka menyewa travel agent untuk mencari alamat rumah Dyna,
Mereka berfikir setidaknya akan lebih mudah untuk mereka menemukan rumah Dyna kalau pakai jasa travel.
Travel agent yang mereka bawa berhenti tepat di depan rumah berpagar hijau dengan cat rumah berwarna merah bata,,, di perhatikannya alamat rumah yang tertera di dinding pagar dan di samakannya dengan alamat yang dy pegang,,, ya akhirnya sampe juga di rumah Dyna, senyum mengembang di bibir Rhein dan Alwi…
“..huh q bakal segera bertemu dengan Dyna setelah ini”, pikirnya…
Untung pula rumah Dyna itu terletak di kawasan perkotaaan dan tepat di pinggir jalan raya…jadi tak begitu sulit untuk mencarinya.

Diketuknya pintu rumah itu, berharap Dyna yang membukakannya,
….tok..totk..tok!! (suara pintu di ketuk)
“assallamualaikum”…spada…”.
Selang beberapa detik, keluarlah cew hitam manis mirip Dyan,,,
“….hmmm ini pasti kak Fitri”, pikir Rhein.
“ya ada yang bisa saya Bantu???”, kata perempuan itu.
“..saya Rhein kak, temennya Dyna, ini bener rumahnya Dyna Febrianti kan kak??”
“iya betul… adek ini nyari Dyna yach,,, mari silahkan masuk dulu, qt bicara di dalam.
Di persilahkannya masuk Rhein n Alwi.
Rhein mencoba memulai pembicaraannya…
Rhein:      “begini kak, hampir 3 bulan Dyna gak masuk sekolah, padahal             bentar lagi qt mau ada UAN kak, apa Dyna pulang kesini??”
Kak Fitri: “iya dek, kemarin keluarga kami juga dapat panggilan dari pihak sekolah Dyna, kami juga syock kenapa n ada apa Dengan Dyna, kenapa dy tiba-tiba-
21.
jadi bandel seperti ini, padahal sebelumnya dy gak nah seperti ini, Rhein pun pasti tau bukan???”
Rhein:      “jadi kak Fitri juga gak tau dimana Dyna sekarang???”
                        (Rhein lemas putus asa).
Kak Fitri: “Iya dex… ibuk sampai sakit mikirin Dyna, waktu itu…”
Rhein:      “maksud Kak fitri “waktu itu”???”
Kak Fitri: “begini lo dek sebenernya critanya, sebelum Dyna menghilang kami memberi kabar kalau Ibu sakit keras di sini, dan kami butuh biaya banyak untuk biaya RS ibu….
Dan dari situ lah Dyna berfikiran untuk cari kerja part time. Sejak itu kami sempat kehilangan kontak dengan dy.
Sampe sekitar 2 minggu kalau gak salah, tapi kami tak tahu dy kerja dimana, dan sbg apa, karena dy memang tak pernah crita, setiap bulannya dy kirim kami uang, ya…kalo kami bilang lebih dari cukup untuk biaya ibu, bahkan kadang bisa lebih untuk kebutuhan kami sehari-hari dan biaya sekolah adik-adiknya ini”.
Rhein:      “tapi Mbak fitri gak nah coba Tanya ke Dyna dy dapet uangnya darimana gitu?”
Mb Fitri:   “sering dex… bahkan mb kadang sampe berantem sama dy gara2 itu, gimana dx, mb kan curiga juga kan sama dy, ngomongnya kerja part time, tapi masak iya gajinya sebesar itu, belum lagi ditambah 2 hari yang lalu kami dapat surat panggilan dari pihak sekolah itu, kami tambah bingung kan???!!!”.
Rhein dan Alwi hanya bisa ikut prihtain aja denger crita mbak fitri, di satu sisi, Rhein makin cemas… dan dy hanya bisa pasrah kalo memang benar terbukti, perempuan di Koran itu adalah Dyna, seperti yang teman2.a bilang….
Dalam hatinya, gimana jadinya kalo keluarga Dyna tahu tentang itu.
Tapi Rhein bertekad takkan pernah berhenti untuk cari tahu dimana keberadaan Dyna sekarang.

3 hari di Semarang, dan tak dapat apa-apa.
Hanya keputus asa.an lah yang melanda diri Rhein sekarang, dy tak tahu harus mencari Dyna dimana lagi,
“…uadclah Rhein, jangan sedih lagi, gimana lo besok qt pulang aja, coz 3hari qt di sini tapi mana hasilnya,,, nihilll..!!!”, kata Alwi.”
Rhein hanya diam, dy tak bisa berkata ap-apa, dy takut kalau2 ap yang dy takutkan tentang Dyna ternyata benar adanya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan kembali ke Bogor.

Hari ini Rhein jalan ma anak-anak Taekwondo ke Bogor land, rencananya mereka mau ngadain out bond disana, tapi karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, jadi mereka memutuskan wat hunting-hunting aja, sambil BBQ.an J
Sejenak Rhein bisa melupakan masalahnya, tentang Dyna dan gosip2 itu.
“..hyy Rhein??, apa kabar… napa sekarang akhir-akhir ne kamu jadi jarang masuk latihan??? Ada masalahkah???”, sapa Kak Shandy.
“..hhhh, iya kak.. ;( Dyna kak….” Jawab Rhein sedih.
“..Dyna??!!!! ada apa dengan dy, oiya ya..kakak perhatiin dy juga gak pernah masuk lagi sekarang??”, timpal kak Shandy.
“Iya makannya itu kak, Dyna menghilang…hampir 3 bulan ini dy gak masuk sekolah. 4hari yang lalu aq dah coba samperin dy ke rumahnya di Semarang’”, Rhein menjawab dengan nada sedih.
“..lalu??? apa kamu ketemu dy???”, Tanya K. Sandy lagi.
“…gak!!...Keluarganya pun gak tau keberadaan dy sekarang, yang mereka tau tiap bulan ada uang ngalir di rek.kakaknya, mereka tau itu dari Dyna, karena kadang Dyna pun memberi kabar, tapi Dy tak nah memberi tahu mereka dimana dy sekarang.
Aq hanya dapat numb hape yang terakhir di pake Dyna untuk menghubungi keluarganya, tapi itupun ternyata sudah tak aktif.” Rhein menarik nafas panjang.
“…sabar ya Rhein, qt berdoa aj semoga Dyna cpet kembali” jawab kak Shandy mencoba menenangkan.
“trus… sekolahnya gimana Rhein???” Tanya kak Shandy lagi,
“berulang kali surat peringatan dilayangin ke keluarganya, tapi mau gimana wong Dyna.a aja gak ada kabar kok, pihak sekolahnya bilang 1 dy diberi batas keringanan sampe 1 minggu lagi, jika dy masih belum masuk, terpaksa… pihak sekolah harus men deo.nya.” jawab Rhein.
Tak terasa mereka asyik mengobrol, hari sudah beranjak petang, mereka pun bergegas pulang.
Dijalan tepat di lampu merah, ya Rhein teringat lampu merah ini kenangannya bersama Dyna, kenangan saat mereka ketilang…hahhaha lucu lo ingat itu”, pikir Dyna…
Dy liati pos polisi dan skeliling jalan itu, saat dy menoleh terkejutlah ia,,,,,
“..kakk…. itu Dyna kan???”, Rhein berteriak menyebut nama Dyna,
“..mana Rhein, kakak gak liat apa apa,,,,” jawab Shandy.
“itu kak, yang ada di dalam mobil avanza silver”, Rhein menunjuk salah 1 mobil avansa di sampingnya.
“iii…ya Rhein, kamu benar itu memang Dyna,” jawab Shandy semakin terkejut pula.
“kak…. Ayo qt buntuti mobil itu!!!”, ajak Rhein.
“kenapa gak qt potong jalannya aja Rhein…., qt bisa ngejer kok, mobil itu jalannya gak ngebut2 banget pula”, sahut Kak Shandy.
“…gak usah kak, cukup qt buntuti dan aq catet nopol.nya aja, jadi qt cukup tahu kemana Dyna pergi, bahkan tempat tinggalnya sekarang, kak kak…jangan terlalu deket biar mobil itu gak curiga kalo qt buntuti mereka..”, jawab Rhein.
“…ok lah kalo begitu”…jawab Kak Shandy menurut.
Mobil itu masuk ke kawasan Perhotelan…
Perasaan Rhein semakin tak enak, tapi dy belum bisa mengambil kesimpulan apa-apa, dy hanya terus bergumam dalam hati, berharap kekhawatirannya tidak berarti apapun.
        Di pandanginya mobil itu dari jauh, sekarang semakin terlihat jelas kalau gadis itu memang Dyna… Tapi Siapa laki-laki itu???
“siapa laki-laki yang bersama Dyna itu????”, Tanya Rhein dalam hati…
“mungkinkah itu pacarnya???... ahhh qrasa tak masuk akal, masak iya seumuran om q???”, Rhein semakin bingung..
“kira-kira laki-laki yang bersama Dyna itu sapa ya Rhein”, sela Kak Shandy pun penasaran.
“…???? Aq juga gak tahu kak, aq juga bingung… dan aq semakin takut kak!!!”, jawab Rhein cemas.
“takut apa Rhein, sudah lah jangan berfikir yang gak enggak dulu, qt positif thingking aja, sapa tau itu bos or rekan kerjanya, ya gak??!!!”, Kak Shandy coba menenangkan.
“ya…. Semoga saja kak…”, Jawab Rhein datar.
“…Trus… gimana ne, qt mau liatin aja trus kek gini, or qt masuk dan coba cari tahu apa kepentingan mereka disini???”, Tanya Kak Shandy.
“…huftt…(Rhein berfikir sejenak), hmmm… qt masuk kak!!!”, jawab rhein yakin.
Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam hotel, untuk mencari tahu tentang apa kepentingan mereka disini.
        Dan menurut informasi dari resepcionist hotel, mereka sudah memboking 1 kamar dalam waktu 3 hari terhitung sampe lusa, entah apa yang mereka lakukan, setahu pihak hotel mereka itu sepasang kekasih.!!!!!”.
Rhein dan Kak Shandy sangat syock mendengar penjelasan dari pihak resepcionist itu, gimana mungkin mereka bisa memesan 1kamar saja sedangkan status mereka baru sepasang kekasih, lantas apa yang mereka lakukan berdua???.
“Entah apa yang ada di pikiran Dyna sekarang Kak,,,, aq gak habis fikir kenapa dy jadi kek gini kak???”,kata Rhein sedih.
“Tenang Rhein, ini kan belum pasti, coba qt selidiki lebih jauh besok pagi, gimana???”, bujuk Kak Shandy.
Rhein hanya diam…. Dy sudah bener2 bingung, dy hanya bisa menangis tak habis fikir dengan apa yang sudah Dyna lakukan…
Kak Shandy mengantarkan Rhein pulang, berharap Rhein baik2 saja esok hari.
Rhein masuk rumah….
        “..dari mana Rhein???”, Tanya Bang Kelvin.
Rhein hanya memandangi wajah Abangnya itu dengan kelu dan mata berkaca2… dy langsung lari kekepelukan kakaknya… dan airmatanya pecah….
Bang Kelvin semakin bingung….
“kamu kenapa Rhein,??? Apa ada yang nyakitin kamu or apa???, bilang sama kakak… crita lo kamu ada masalah..??”, desak Bang Kelvin kebingungan.
Lagi-lagi Rhein hanya diam, sambil menangis…..
Tapi dy mencoba untuk bercerita, walau terisak…
        “…Dyna kak!!!”, jawabnya perlahan.
“Iya…ada apa dengan Dy, apa kamu udah dapat kabar dari dy??”, Tanya Bang Kelvin.
“Dyna aq pergokin kumpul kebo sama om2….!!!!”, jawab Rhein lagi
“….Apaaaa!!!!, kamu serius kan Rhein???!!!”, Tanya Bang Kelvin terkejut.
RHein menceritakan semua yang dilihat tadi pada Abangnya itu,
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar